5 Tradisi Ramadan Paling Khas di Indonesia

May 16, 2019

Ramadan menjadi salah satu bulan yang paling ditunggu-tunggu sepanjang tahunnya, terutama bagi umat Muslim di Indonesia. Tak hanya dianggap sebagai salah satu bentuk ibadah paling akbar, Ramadan pun kerap menjadi momen penting bagi mereka yang ingin berpartisipasi dalam beragam tradisi unik di bulan suci. Sahur on the road dan Ngabuburit mungkin merupakan cara termudah untuk mendefinisikan tradisi Ramadan di Indonesia – namun tentu saja faktanya lebih dari sekadar itu.
Memiliki lebih dari 300 kelompok etnik dan 700 bahasa daerah, keanekaragaman budaya menjadi salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat di tanah air – termasuk dalam ibadah seperti halnya puasa. Jadi, tidak mengherankan jika masyarakat dari berbagai provinsi di Indonesia biasa menyambut bulan Ramadan dengan cara dan tradisi unik mereka sendiri. Mulai dari kegiatan memasak ratusan kue Apem, hingga makan-makan besar bersama orang-orang tercinta, berikut adalah lima tradisi Ramadan khas Indonesia yang tidak boleh Anda lewatkan di tahun depan!

1.    Apeman – Yogyakarta
tradisi_apeman_jogja
Photo credit: wego.co.id
Pada awalnya, Apeman atau Jumenengan diadakan untuk merayakan naiknya Sultan ke tahta kerajaan – karena masyarakat melambangkan kue Apem sebagai rasa terima kasih dan syukur pada Yang Maha Kuasa. Namun, seiring berjalannya waktu, makna dari Apeman pun mulai mengalami pergeseran. Di antara sederet kabupaten dan desa di Yogyakarta, Sosromenduran mungkin menjadi salah satu wilayah yang memahami betul makna dari tradisi Apeman – karena warganya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk berpartisipasi tiap tahunnya. Membawa unsur-unsur asli dari tradisi Apeman, di hari istimewa ini para warga akan berkumpul di sekitar Jalan Sosrowijayan jelang bulan Ramadan untuk memasak ratusan kue Apem. Apem-apem tersebut kemudian akan dibagikan pada warga setempat serta turis yang lalu-lalang di sekitar Malioboro.

2.    Nyorog – Jakarta
tradisi_nyorog_di_jakarta
Photo credit: nsbb-bekasi.blogspot.com
Bagi sebagian orang, kata Nyorog mungkin terdengar sangat asing di telinga dan hal ini bukanlah terjadi tanpa alasan. Bertahun-tahun lalu, penduduk asli Jakarta atau dikenal juga sebagai orang Betawi, dikenal memiliki tradisi unik yang selalu menambah semarak nuansa jelang Ramadan. Mungkin salah satu cara termudah untuk mendefinisikan Nyorog adalah dengan menilik kata Silaturahmi yang disadur dari bahasa Arab – menjaga hubungan baik antara sahabat serta sanak saudara sepanjang hidup. Namun, satu hal yang membuat Nyorog berbeda dari acara kumpul-kumpul pada umumnya adalah keberadaan masakan khas Betawi setiap kali acara berlangsung. Beberapa hari sebelum memasuki bulan Ramadan, orang-orang berusia muda biasanya akan berkunjung ke rumah kerabat mereka yang dituakan, sambil membawa Sayur Gabus Pucung yang mereka olah sendiri. Sayur Gabus Pucung dipilih sebagai penganan khas tradisi Nyorog karena hubungannya yang erat dengan tradisi dan budaya Betawi. Selain hidangan sayur tradisional ini, bahan-bahan kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gula, kopi, dan sirup juga seringkali menjadi buah tangan yang melambangkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan.

3.    Munggahan – Jawa Barat
Tradisi_munggahan
Photo credit: perumperindo.co.id
Berasal dari kata dalam bahasa Sunda Munggah yang berarti ‘Naik,’ Munggahan memiliki filosofi yang jauh lebih dalam dibalik namanya yang singkat. Penduduk asli wilayah Jawa Barat meyakini bahwa Ramadan merupakan saat paling tepat bagi kita untuk mawas diri – menjadi pribadi yang lebih baik dengan membangun hubungan yang lebih erat dengan Sang Pencipta. Dari sinilah Munggahan lahir, tak hanya sebagai ritual penyambut bulan Ramadan, tapi juga pengingat bagi kita untuk senantiasa berbuat baik. Rangkaian acara dalam tradisi Munggahan biasanya diawali dengan prosesi ziarah ke makam kerabat dekat. Banyak orang meyakini jika ziarah merupakan salah satu cara untuk menghormati dan selalu mengingat orang-orang yang telah meninggalkan kita. Maka, tak heran jika kegiatan ziarah begitu populer terutama menjelang bulan Ramadan. Setelah ziarah selesai dilaksanakan, keluarga biasanya akan berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama. Hal ini menjadi momen yang cukup langka, karena padatnya aktivitas seringkali menjadi penghalang bagi kita untuk berkumpul bersama orang-orang terkasih. Terakhir, Munggahan biasanya akan ditutup dengan makan siang atau makan malam bersama yang akan menambah semarak Ramadan Anda.

4.    Balimau – Sumatera Barat
Tradisi_balimau
Photo credit @ jelajah_rokanhulu
Menurut para sejarawan, tradisi Balimau muncul sekitar abad ke-19 saat pemerintah kolonial Belanda masih menduduki tanah air. Pada saat itu, sebagian besar masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Minangkabau menggunakan jeruk limau sebagai pengganti sabun mandi – dari sinilah istilah Balimau kemudian lahir. Seiring berjalannya waktu, penduduk setempat mulai menghubungkan tradisi ini dengan aktivitas keagamaan seperti puasa di bulan Ramadan, karena Balimau melambangkan pembersihan tubuh, jiwa, dan pikiran. Bagi Anda yang mungkin belum pernah mendengar informasi mengenai tradisi unik ini, prosesi Balimau sebenarnya cukup sederhana – masyarakat dari berbagai desa akan berkumpul di sekitar sungai atau danau, kemudian mereka akan menjalani ritual mandi dengan menggosokan jeruk limau ke sekujur tubuh. Jika Anda tertarik untuk menjadi bagian dari prosesi Balimau, jangan lupa untuk merencanakan perjalanan Anda satu minggu sebelum Ramadan.

5.    Assuro Maca – Makassar
Assuro_maca_tradisi
Photo credit: celebesonline.com
Sebagai kota urban terbesar kelima di Indonesia dan memiliki lebih dari 87% warga Muslim, bukan rahasia lagi jika Ramadan di Kota para Daeng memang selalu jauh dari kata biasa – dan Assuro Maca merupakan salah satu nyatanya. Didefiniskan sebagai ‘berdoa,’ penduduk setempat meyakini bahwa tradisi ini telah dijalankan oleh leluhur mereka setiap menjelang bulan Ramadan selama berabad-abad lamanya. Jadi, melewatkan satu Assuro Maca sepertinya menjadi hal yang mustahil di kota Makassar. Menurut beberapa tokoh agama setempat, Assuro Maca merupakan simbolisasi dari rasa terima kasih serta hubungan yang harmonis. Beragam makanan yang disajikan dalam upacara Assuro Maca melambangkan rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan, sedangkan kegiatan makan-makan bersamanya menjadi lambang kehidupan yang harmonis antara tetangga dan keluarga. Bagi Anda yang ingin mengikuti upacara unik ini tahun depan, pastikan Anda sudah berada di Makassar beberapa hari sebelum Ramadan dimulai ya!